02.22 | Author: Rudi Utomo
'entry'>
Sinetron Santriwati Gaul pernah ditayangkan di TPI pada tahun 2007. Nah, supaya bisa sharing dengan teman-teman yang ingin belajar menulis drama komedi untuk televisi, maka Skenario Sinetron Santriwati Gaul ini akan saya posting mulai hari ini satu demi satu. Mulai dari episode 1 sampai episode 24. Mudah-mudahan saja bermanfaat bagi teman-teman yang ingin menjadi penulis skenario. Silahkan KLIK lanjuntannya...!

STAR VISION

SKENARIO
SINETRON KOMEDI REMAJA
durasi 48 menit


SANTRIWATI GAUL pisode; 1

Cerita & Skenario;
Rudi Utomo

KARAKTERISASI PEMAIN;

A. PEMAIN UTAMA :

1. Nama : AULIA (santriwati)
Usia : 16 tahun
Dialek : Metropolis Gaul (Jakarta)
Kostum : ABG Gaul, tapi berjilbab
Karakter : Agnes Monica Style pada (Cewekku Jutek)
Cantik, modist Gaul, berani, ceplas-ceplos, cerdas, berkepribadian.
BckGround : Dari keluarga pengusaha kaya, educated,
otoriter dan matrealistic .


2. Nama : MARDIAH (santriwati)
Usia : 16 tahun
Dialek : Indonesia (Jawa Tengah)
Kostum : Sederhana tapi anggun
Karakter : Cantik, luwes, Putri Solo Style,
suka meremas ujung baju jika gugup
lugu, jujur, sopan, kurang inisiatif.
BckGround : Dari keluarga ningrat di Jawa Tengah.


3. Nama : BETTY (santriwati)
Usia : 16 tahun
Dialek : Metropolis Gaul (Jakarta)
Kostum : Tidak modis, asal-asalan.
Karakter : Gendut, doyan makan, ngemil dan tidur
gaul, cuek, berani & sembrono
BckGround : Dari keluarga pedagang, kaya.


4. Nama : USTADZ SOBRI
Usia : 32 tahun
Dialek : Indonesia (Jawa Tengah)
Kostum : Rapi dan elegant
Karakter : Tampan, romantis, educated & bijaksana
BckGround : Selain Ustadz, ia juga Dosen.
5. Nama : USTADZAH HABIBAH
Usia : 30 tahun
Dialek : Indonesia
Kostum : Pakaian dewasa
Karakter : Judes, kurang gaul & emosional
BckGround : Sarjana S1

6. Nama : NIRWAN (santriawan)
Usia : 16 tahun
Dialek : Metropolis Gaul (Jakarta)
Kostum : Gaul
Karakter : Liar & nakal
BckGround : Keluarga kaya, kurang pengawasan.

7. Nama : AFRIZAL (calon suami aulia)
Usia : 28 tahun
Dialek : Indonesia Formal (Jakarta)
Kostum : Eksecutive
Karakter : Sombong, sok Agamis, kurang menghargai
orang lain, menghalalkan segala cara.
BckGround : Anak Pengusaha, Alumni Pesantren.



B. PEMAIN PENDUKUNG UTAMA

1. Nama : USTADZ ROKHIM
Usia : 40 tahun
Dialek : Indonesia (Jawa Tengah)
Kostum : Tidak rapi, semrawut, jorok
Karakter : Perokok berat, sering kehausan, ceplas-
ceplos, teledor, kurang peduli
lingkungan, lucu, konyol.
BckGround : Sarjana S2

2. Nama : AYAH AULIA
Usia : 50 tahun
Dialek : Indonesia formal (Jakarta)
Kostum : Eksekutive
Karakter : Otoriter & keras hati
BckGround : Pengusaha Kaya
C. PEMAIN PENDUKUNG

1. Nama : USTADZ MUBIN
Usia : 50 tahun
Dialek : Indonesia Jawa
Kostum : Biasa
Karakter : Dingin, berwibawa.

2. Nama : FA’I (santriawan)
Usia : 16 tahun
Dialek : Indonesia Gaul
Kostum : Biasa
Karakter : Sebagaimana remaja umumnya

3. Nama : AHSAN (santriawan)
Usia : 16 tahun
Dialek : Indonesia gaul
Kostum : Biasa
Karakter : Sebagaimana remaja umunya


D. FIGURAN

1. SOPIR
2. SANTRIAWAN
3. SANTRIWATI


SINOPSIS

Adalah sebuah Pesantren yang terletak di daerah, jauh dari kota. Didalamnya terdapat tiga orang santriwati yang saling bersahabat. Mereka adalah AULIA, BETTY & MARDIAH. Kala itu, AULIA baru saja pulang dari Jakarta setelah menjalani masa skorsing selama seminggu karena ketahuan berpacaran dengan FA’I dan berulang kali melakukan pelanggaran. Itu adalah kesempatan terakhir AULIA di Pesantren.

Belum selesai persoalan AULIA, muncul lagi persoalan MARDIAH. Ia tertangkap Usadz ketika berpacaran dengan NIRWAN seorang santriawan. Ditambah lagi BETTY yang memperolok USTADZAH HABIBAH, sehingga USTADZAH itu tersinggung dan sakit hati.

Namun dari ketiga persoalan itu, yang paling berat adalah persoalan AULIA. Kenakalannya di luar kewajaran untuk ukuran pesantren. Tapi apa yang dilakukan AULIA tidak lepas dari keadaan keluarganya yang otoriter dan matrialistis. Apa yang dilakukannya adalah bentuk pemberontakan AULIA terhadap orang tuanya. Apalagi ketika ia juga dijodohkan dengan anak sahabat ayahnya bernama AFRIZAL, seorang pengusaha yang juga alumni Pesantren. AULIA jadi semakin ingin berontak.

Keadaan AULIA itu tertangkap oleh USTADZ SOBRI, seorang dosen yang juga mengajar di Pesantren itu. Rasa kasihan dan khawatir membuat jiwa pendidik USTADZ SOBRI muncul. Ia mulai memberikan bimbingan terhadap AULIA. Intensitas itu membuat USTADZ SOBRI semakin sayang pada AULIA. Ia seperti sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Dan AULIA sendiri juga mulai merasakan keteduhan dalam bimbingan USTADZ SOBRI.

Sebagai remaja yang resah dan kehilangan figur, USTADZ SOBRI akhirnya menjadi pilihan bagi remaja seusia AULIA yang membutuhkan kedekatan seorang laki-laki sebagai pengganti Ayahnya.
Dan USTADZ SOBRI adalah pilihannya, protected…, Wise…, dan masih banyak lagi yang dimiliki USTADZ SOBRI selain sebagai Ustadz. Namun USTADZ SOBRI tak pernah berfikir sejauh seperti yang difikirkan AULIA.

Masalah baru datang ketika USTADZAH HABIBAH justru mencemburui kedekatan USTADZ SOBRI dan AULIA. USTADZAH yang berpredikat perawan tua itu diam-diam mencintai USTADZ SOBRI.

Dan kembali masalah baru datang lagi, ketika AFRIZAL tahu kalau AULIA justru mencintai USTADZ SOBRI ®


SKENARIO_______________________________

LOGO PRODUCTION

FADE OUT / FADE IN

ESTABLISHED
- Gerbang Pesantren yang diatasnya tertulis nama Pesantren tersebut.
- Komplek Pesantren

SCENE 01. EXT.PESANTREN-TERAS ASRAMA PUTRA-SIANG
Pemain; Para santri & Nirwan

Tampak tiga orang santri putra tengah mengepel lantai teras asrama. Dan disamping mereka tampak sebuah papan tertulis “SANTRI TUKANG NGINTIP SEDANG DIHUKUM”.

Ketiga Santri yang dihukum itu menghadap kearah kedepan. Salah satu kemudian berbalik memunggungi. Dan tampaklah kalau dipunggungnya ada kertas karton yang tertulis “PENGINTIP SANTRIWATI MANDI”

Yang kedua kemudian juga berbalik dan tampaklah kalau dipunggungnya ada kertas karton juga yang tertulis “PENGINTIP USTADZAH MANDI”

Yang ketiga santri bernama Nirwan juga berbalik. Dan tampaklah kalau dipunggungnya ada kertas karton yang tertulis “PENGINTIP USTADZ MANDI”

Tak lama kemudian para santri lain lewat. Dan mereka spontan mentertawakan Nirwan sambil menunjuk-nunjuk ke punggungnya yang tertulis “PENGINTIP USTADZ MANDI”.

PARA SANTRI YANG LEWAT :
Wan…!, Nirwan…!,
dari kapan loe mulai demen ama cowok…

Nirwan keheranan, tapi ia merasa ada yang salah. Ia lalu meraih tulisan di punggungnya dan membacanya. Maka merahlah mukanya.
Sembari menunjuk pada tulisan USTADZ di karton itu, Nirwan berteriak keras pada para santri.

SANTRI KETIGA :
Ini tulisan USTADZnya
kurang huruf “AH” bego…!!!

Para Santri lalu berlarian sambil berteriak pada santri Ketiga.
CROWDIED PARA SANTRI :
Alasaaaannn…!,
bilang aja kalau sekarang demen anggar…!

SANTRI KETIGA :
Brengsek loe…!!!

Santri ketiga marah dan mengejar mereka hingga kejalanan.
CUT TO


SCENE 02. EXT/INT.JALANAN-DALAM MOBIL-SIANG
Pemain; Aulia, Ayah Aulia & Sopir Pribadi

Sebuah mobil kijang mulus bernomer seri Jakarta tengah melintasi jalan yang di kanan kirinya penuh dengan keindahan pemandangan. Ada gunung di kejauhan, pematang sawah dan kebun.

Didalam mobil itu tampak Aulia tengah bergoyang-goyang sendiri di jok belakang mengikuti irama lagu yang terdengar dari ear phohe walkmannya. Sementara itu Ayahnya duduk dijok depan disamping sopir.

AYAH AULIA :
Aulia…, Aulia…!, Aulia…!!!

Tapi Lia yang telinganya tertutup ear phone tak mendengar panggilan ayahnya. Dan dengan kesal Ayah Aulia membalikkan tubuhnya lalu mencabut ear phone dari telinga Aulia.
AULIA :
Apa sich Pa…?!

AYAH AULIA :
Ngga denger apa…?!,
kalau Papa dari tadi manggil kamu…?!

AULIA :
Iya…, iya…Pa…, ada apa…?

AYAH AULIA :
Papa berharap ini yang terakhir…!
Papa ngga mau denger lagi
kamu punya kasus pacaran di Pesantren…!

Aulia merengut kesal.

AULIA :
Emangnya kenapa sih Pa…?

AYAH AULIA :
Papa mau nikahin kamu sama Afrizal…,
setelah kamu selesai di Pesantren…

AULIA :
Itulah Papa…,
otoriter tapi selalu salah motivasi…

AYAH AULIA :
Maksudmu…?

AULIA :
Alasan Papa melarang Lia pacaran jangan gitu…
Mestinya…,
Lia ngga boleh pacarannya…,
karena Lia harus belajar dulu…,
begitu Pa…

AYAH AULIA :
Oo…begitu to…,
(MORE)
AYAH AULIA(CONT’D) :
ya sudah…,
kalau gitu Papa larang kamu pacaran…!,
karena kamu harus belajar…!

AULIA :
(sambil merengut kesal)
Telat Pa…
CUT TO


SCENE 03. EXT.PESANTREN-DEPAN ASRAMA PUTRI-SIANG
Pemain; Betty & Mardiah

Betty yang mulutnya terus saja mengunyah makanan cemilan, tengah duduk di depan asrama bersama Mardiah.

MARDIAH :
Aulia kok lama banget ya pulangnya…?
Sudah hampir seminggu nih…

BETTY :
Pasti bokapnya marah besar
waktu dapet laporan kalau dia pacaran…
Makanya loe mesti hati-hati Mar…
Sekarang ini pengawasan diperketat…
Yang pada pacaran dilaporin ke wali santri…

MARDIAH :
Gawat…, bisa-bisa habis ini giliranku…

BETTY :
Makanya…,
kayak gue dong…, ngga pacaran…,
belajar jadi konsent…, ngga ada masalah…

MARDIAH :
Masalahmu bukan pacaran Bet…,
tapi masalahmu ada di berat badan…

Betty merengut kesal.
CUT TO

SCENE 04. EXT/INT.JALANAN-DALAM MOBIL-SIANG
Pemain; Aulia, Ayah Aulia & Sopir Pribadi

Mobil Aulia sudah mulai mendekati komplek Pesantren. Sang Ayah lalu menoleh kembali kebelakang.

AYAH AULIA :
Lia…!, pake jilbabmu…!,
sebentar lagi nyampe Pesantren…

Aulia lalu mengenakan jilbabnya. Tapi Ayah Aulia masih melihat Aulia mengenakan pakaian Indis, dimana pusar Aulia kelihatan.

AYAH AULIA :
Kamu gimana sih…?,
mosok pake jilbab tapi puser masih kelihatan…?

Aulia lalu membetulkan pakaiannya dengan meurunkan bagian bawahnya untuk menutupi pusarnya. Ayah Aulia tampak gusar.

AYAH AULIA :
Itu baju Indis Lia…,
kamu prosot-prosotin juga
pusermu tetep kelihatan…
ganti pake baju lain…!!!

Aulia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah tensoplast. Aulia lalu menutup pusarnya dengan tensoplast.

AULIA :
Beres kan Pa…
ngga kelihatan lagi sekarang…

Sang Ayah hanya menelan ludah dengan kesal.

CUT TO
SCENE 05. INT.PESANTREN-RUANG USTADZ-SIANG
Ust.Sobri, Ust.Rokhim, Ustdz.Habibah & Ustadz2

Tampak Ustadz dan Ustadzah tengah duduk di mejanya masing di kantor Guru. Semua meja tampak rapi tanpa asbak. Kecuali meja Ustadz Rokhim yang asbaknya penuh dengan puntung rokok. Ust.Rokhim sendiri merokok seperti Aidit di film G30S PKI. Sementara Ustdz.Habibah mengibas-ngibaskan tangannya mengusir asap rokok dengan kesal.
UST.ROKHIM :
Anak kelas 1 Aliyah putri itu
memang reseh-reseh…
Terutama anak yang diskors karena pacaran…,
siapa namanya itu…?

UST.SOBRI :
Aulia Ustadz…

UST.ROKHIM :
Wah…, Ustadz Sobri hafal betul nich…

Tampak Ustadzah Habibah terperanjat dan memandang cemburu pada Ustad Sobri. Ust.Rokhim tahu itu, ia melirik pada Ustdz.Habibah.

UST.ROKHIM :
Jangan-jangan…
Ustadz Sobri punya perhatian khusus…
(sengaja memanas-manasi Ustdz.Habibah)
Tapi ngga apa…
Anak itu tampaknya butuh figur kok…

Ustadz Sobri tersenyum saja. Tapi Ustdz.Habibah memerah wajahnya.
UST.ROKHIM :
(mematikan rokok dan menyalakan yang baru)
ABG itu punya kemungkinan memilih pasangan
yang sudah berumur seperti kita.
Protected, wise, intelek…,
apalagi anda juga seorang dosen…
Ustadz.Habibah semakin terbakar cemburu. Sementara Ust.Rokhim meneguk air minumnya tapi habis. Ia lalu melirik ke gelas Ust.Sobri yang masih penuh.

UST.ROKHIM :
Bagi airnya ya Ustadz…

Ust.Sobri mengangguk. Sementara Ust.Rokhim menuangkan air minum Ust.Sobri sebagian kedalam gelasnya. Setelah itu ia meneguknya, lalu melanjutkan bicara.

USTADZ SOBRI :
Dan idealnya laki-laki itu…
menikah dengan yang sepuluh tahun lebih muda…
Michael Douglas
sama Catherine Zeta Jones misalnya…
mereka malah bedanya lebih dari sepuluh tahun…

Tiba-tiba Ustadzah membanting buku dan berlalu pergi meninggalkan ruangan kantor. Ustadz Sobri terperanjat dan para Ustadz saling pandang.
CUT TO


SCNE 06A. EXT/INT.JALANAN-DALAM MOBIL-SORE
Pemain; Aulia, Ayah Aulia & Sopir Pribadi

Di dalam mobil, Aulia sudah bersiap diri dengan baju indisnya yang ia tutup dengan jaket. Dan sang Ayah kembali menasehati.

AYAH AULIA :
Tolong ya Aulia…
Kamu harus bedakan
antara kehidupan disini
dengan kehidupan
semasa kamu sekolah di Amerika…

AULIA :
Loh…!
Memangnya kenapa Pa…?
AYAH AULIA :
Ini Indonesia…!
Kita memegang adat ketimuran…
Terlebih lagi
yang kau tempati sekarang ini adalah Pesantren…

AULIA :
Yang penting itu hatinya Pa…!
Buat apa berpenampilan manis…
kalau hatinya bagai srigala…

AYAH AULIA :
Lebih baik lagi kalau berhati merpati
tapi berpenampilan kelinci…

AULIA :
Papa gimana sih…?!
Kelinci kan simbolnya Play boy…!

Ayah Aulia terperangah, karena salah membuat analogi.

CUT TO


SCENE 06. EXT.PESANTREN-DEPAN ASRAMA PUTRI-SORE
Pemain; Aulia, Mardiah & Betty

Aulia muncul memasuki halaman Asrama Putri. Pada saat itu Betty dan Mardiah masih berada di depan asrama.

Melihat kedua sahabatnya, Aulia lalu berteriak pada Betty dan Mardiah. Demikian juga Betty dan Mardiah menghambur kepada Aulia penuh rindu.

BETTY & MARDIAH :
Liaaa…aaaa…!!!

AULIA :
Betty…!!!, Mardiah…!!!

Mereka bertiga saling berpelukan.
BETTY :
Gua kangen ama loe Li…

Tapi Betty memang keterlaluan. Aulia dianggap Betty seperti striker yang baru saja mencetak goal. Betty langsung menubruk Aulia yang lebih dulu berpelukan dengan Mardiah. Tentu saja tubuh Betty yang berat, membuat keduanya terjengkang dan tertindih tubuh Betty.

AULIA :
Aduhhh Betty…,
kangen sih kangen…
Tapi jangan ngajak sumo begini dong Bet…

Pada saat itu Ustadzah Habibah lewat di tempat itu. Dan ia melihat di punggung bagian bawah tubuh Aulia terdapat tatto bergambar bibir. Ustadzah Habibah lalyu menegur Aulia.
USTADZAH HABIBAH :
Aulia…!

AULIA :
Ya Ustadzah…!

USTADZAH HABIBAH :
Kamu tahu…,
kalau tatto itu haram hukumnya…!

Aulia lalu tersadar. Ia lalu memperlihatkan tatto di punggungnya itu.

AULIA :
Ooo…, ini maksud Ustadzah…?

Aulia lalu meludah di telapak tangannya. Setelah itu tangannya ia sapukan ke punggungnya dimana tatto itu berada. Sehingga gambar tatto itu terhapus berantakan. Tentu saja Ustadzah Habibah terperangah.

USTADZAH HABIBAH :
Hah…!
AULIA :
Ini namanya tatto ajaib Ustadzah…
Besok juga gambarnya bisa diganti lagi…
Mari Ustadzah…!
Kami mau ke asrama dulu…

Aulia lalu pergi bersama kedua temannya. Sementara Ustadzah Habibah masih tercengang tak percaya.

USTADZAH :
Aneh…!
Tatto kok bisa hilang ya…?
CUT TO


SCENE 07. EXT.PESANTREN-DEPAN ASRAMA PUTRA-SORE
Pemain; Fa’i, Nirwan & Ahsan

Tampak Fa’i tengah duduk sambil melamun di depan asrama putra. Tak lama Ahsan muncul dan duduk disampingnya.

AHSAN :
Kangen ya sama Aulia…?

Fa’i diam saja.

AHSAN :
Udah ngga usah diterusin pacarannya…
Entar kena skors lagi, baru nyaho kamu…!

FA’I :
Boro-boro kangen…, mikirin aja ngga…

AHSAN :
Yang bener nih…

FA’I :
Serius…

AHSAN :
Segampang itu melupakan Aulia…
FA’I :
Apa susahnya sih melupakan cewek…?

Tiba-tiba muncul Nirwan.

NIRWAN :
Bokin loe si Aulia dateng noh…

FA’I :
(antusias)
Ah yang bener…?, dimana sekarang…?

NIRWAN :
Di ruang tamu…

Tanpa basa-basi lagi, Fa’i langsung pergi menuju ruang tamu.
AHSAN :
(kesal)
Dasar si Fa’i…, gede omong…
CUT TO


SCENE 08. EXT.PESANTREN-DEPAN RUANG TAMU-SORE
Aulia, Betty, Mardiah, Fa’I & Ayah Aulia

Aulia, Betty & Mardiah tengah melepas Ayah Aulia yang hendak pulang.

Sementara itu tampak Fa’i mengendap-endap bersembunyi dibelakang pohon.

Tak lama kemudian mobil Ayah Aulia meluncur pergi meninggalkan halaman ruang tamu Pesantren, diiringi lambaian tangan Aulia, Betty dan Mardiah.

Setelah mobil Ayah Aulia meluncur jauh, Fa’i muncul dari balik pohon dan mendekati Aulia. Sementara itu Mardiah lalu menyenggol bahu Betty sambil memberi isyarat mata supaya mereka tahu diri dan pergi. Betty lalu mengikuti Mardiah pergi.
FA’I :
Apa kabar Lia…?

AULIA :
Jangan nekat Ie…,
entar dilihat Ustadz kita bisa diskors lagi…

FA’I :
Sebentar doang…!,
gua cuman pengin nanya…,
gimana hubungan kita selanjutnya…?

AULIA :
Kita putus aja Ie…!

FA’I :
Kenapa…?

AULIA :
Gua udah banyak masalah…,
ngga mau nambah masalah lagi…

FA’I :
Justru itu…,
gua kan bisa bantu masalah loe…

AULIA :
Bagaimana loe bisa bantu masalah gua
kalau sama Bokap gua aja loe takut…

FA’I :
Gua ngga takut…!,
Kalau perlu gua temuin Bokap loe…?

AULIA :
Alahhhh…, emangnya gua ngga tahu
kalau loe tadi sembunyi dibelakang pohon
waktu bokap gua mau pulang…

Aulia berlalu pergi, sementara Fa’i hanya tercengang malu.
FADE OUT / FADE IN

SCENE 09. EXT.PESANTREN-SEKITAR MASJID-MALAM
Pemain; Aulia & Ust.Sobri

Pemandangan nuansa malam pesantren. Dan Terlihat beberapa santri putra mengaji di Masjid.

Tampak Ustadz Sobri turun dari Masjid menuju asrama putra. Dan ketika melewati pohon, muncul Aulia yang masih mengenakan mukena dari balik pohon tersebut. Ustadz Sobri kaget.

USTADZ SOBRI :
Astaghfirullah…!, kamu Lia…!
Ngapain kamu disini…!
Ayo kembali ke Asrama…!

AULIA :
(dengan tatapan sedih)
Aulia pengin bicara sama Ustadz…

USTADZ SOBRI :
Boleh…, tapi tidak begini caranya…
Besok saja di kantor…

AULIA :
Please Ustadz…!, Lia pusing…!
Lia minta nasehat Ustadz sekarang…

Dan tanpa mereka duga, tiba-tiba muncul Fa’i yang baru pulang dari Masjid. Fa’i terkesima dan memandang keduanya dengan tatapan tak senang. Aulia juga terkejut.

USTADZ SOBRI :
Lia segera kembali ke asrama…!,
Fa’i juga…!

Ustadz Sobri segera melangkah pergi. Sementara itu memandang kepergian Ustadz Sobri dengan wajah memerah. Ia lalu menetap Aulia tajam.
FA’I :
Loe pacaran sama Ustadz Sobri ya…?

AULIA :
(sambil melangkah pergi)
apa peduli loe…!

Fa’i kesal. Ia membalikkan badan lalu menendang kerikil dengan kaki mengayun keras. Ia tak sadar kalau ada santri lain yang melangkah menuju ke arahnya. Dan batu itu melayang mengenai santri tersebut.

FA’I :
Aduh sorry…, sorry…, sorry…!!!
CUT TO


SCENE 10. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRA-MALAM
Pemain; Ust.Sobri, Ahsan & Santri Putra

Tampak beberapa santri putra tengah membaca Al-Qur’an di dalam pondokan, sementara sebagian yang lain belajar dengan khusuk diatas meja kecil pendek terbuat dari kayu. Diantara mereka ada Ahsan, juga Ustadz Sobri yang mengawasi mereka belajar sambil membaca kitab.
CUT TO


SCENE 11. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRI-MALAM
Pemain; Aulia, Betty & Figuran Santri Putri

Tampak beberapa santri putri juga tengah membaca Al-Qur’an. Dan beberapa diantaranya belajar diatas meja kecil pendek dari kayu yang bisa dilipat, atau ada yang sambil tidur tengkurap diatas lantai.

Betty terlihat malah asyik makan emping melinjo di sudut kamar. Beberapa bungkus emping melinjo tampak menumpuk disebelahnya.

Aulia tampak duduk di sudut kamar dengan wajah gelisah.
Aulia seperti tengah terbeban dengan sejuta peroslan. Dengan kesal, Aulia lalu meraih walkman dari dalam tasnya. Ia lalu meletakkan earphone di kedua telinganya dan mulai asyik menikmati musik lewat walkmannya. Tubuhnya bergerak-gerak mengikuti irama musik yang hanya ia dengar sendiri itu.
CUT TO


SCENE 12. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRA-MALAM
Pemain; Ust.Sobri, Umar, Fa’i & Santri Putra

Beberapa santri putra masih membaca Al-Qur’an. Dan sebagian yang lain masih belajar dibawah pengawasan Ust.Sobri yang asyik dengan kitab yang dibacanya. Tak lama kemudian muncul Fa’i dengan wajah merengut kesal.

FA’I :
Assalamu’alaikum…

CROWDIED :
Wa’alaikum Salaammm…

Ustadz Sobri memandang kearah Fa’i yang mulai duduk dan mengambil buku-bukunya. Dan Fa’i sendiri sesekali menatap Ustadz Sobri dengan tatapan tak suka.

USTADZ SOBRI :
Fa’i langsung belajar…!

FA’I :
(dengan nada melawan yang halus)
Ini juga mau belajar Ustadz…

Ustadz Sobri kembali membaca, sementara Fa’i mulai berbisik pada Ahsan yang berada disebelahnya.

FA’I :
(berbisik)
Gua barusan ngelihat Ustadz Sobri
pacaran sama Aulia…
AHSAN :
Mana mungkin…,
kamu aja kali yang cari perkara…,
gara-gara diputusin Aulia…

FA’I :
Enak aja…, gua lihat sendiri…

AHSAN :
Apapun namanya…
kalau lihat sendiri itu ngga ada bukti…,
kecuali lihatnya rame-rame…

FA’I :
Tapi bener…, gua lihat…!

AHSAN :
Apalagi mata kamu yang lihat…

FA’I :
Emangnya kenapa mata gua…

AHSAN :
Mata kamu kan mata ngeres…,
jadi mana bisa penglihatanmu dipercaya…

Fa’i menatap pada Ahsan dengan dongkol.
CUT TO


SCENE 13. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRI-MALAM
Pemain; Aulia, Betty & Figuran Santri Putri

Beberapa santri putri masih membaca Al-Qur’an. Dan beberapa diantaranya masih belajar. Aulia masih dengan walkmannya. Betty masih dengan emping melinjonya.

CUT TO

SCENE 14. EXT.LORONG KAMAR SANTRI PUTRI-MALAM
Pemain; Ustadzah Habibah
LOW ANGLE
Tampak sepasang kaki wanita dengan ujung Gamis (Baju kurung wanita Muslimah) hampir menyentuh lantai, melangkah menyusuri koridor asrama santri putri.

Sepasang kaki wanita itu adalah sepasang kaki Ustadzah Habibah yang tengah mengontrol kamar–kamar santri putri. Ustadzah Habibah menghentikan langkahnya ketika sampai di kamar Aulia dan Betty.

Ustadzah Habibah berhenti sebentar di depan pintu dan kemudian ia membuka pintunya pelahan.
CUT TO


SCENE 15. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRI-MALAM
Pemain; Aulia, Betty & Figuran Santri Putri

Semua masih belajar dan sebagian membaca Al-Qur’an. Aulia juga masih asyik dengan walkmannya, juga Betty yang masih asyik dengan emping melinjonya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah Ustadzah Habibah yang berdiri didepan pintu.

USTDZ.HABIBAH :
Assalamu’alaikum…

CROWDIED :
Wa’alaikum Salaaammm
Ustadzah Mardiah…

Semua menatap Ustadzah Habibah. Aulia kaget, Betty juga kaget.

Aulia segera menutup dirinya dengan selimut hingga kepala, supaya head set walkmannya tak terlihat. Dengan itu ia berpura-pura sakit.

Sementara Betty langsung menelan emping di mulut yang belum selesai dikunyahnya.
Seketika itu pula ia menduduki emping melinjonya yang tengah disantapnya. Takut ketahuan. Ustadzah Habibah lalu menghampiri Betty.

USTDZ.HABIBAH :
Betty…,
kenapa ngga belajar…?

Betty kesulitan menjawab karena baru saja menelan begitu banyak emping yang belum selesai dikunyah.

BETTY :
Iy…,iy…,iya Ustadzah…,
ini lagi mau belajar…

Ustadzah lalu berganti tanya pada Aulia.

USTDZ.HABIBAH :
Aulia…!!!,
kamu kenapa ngga belajar…?
Kamu jangan bikin ulah terus ya…!
Ingat…,
Ini adalah kesempatan terakhirmu di Pesantren…!

AULIA :
(berpura-pura sakit, memijit kepalanya)
Saya sakit Ustadzah…, pusing…

Ustadzah Habibah lalu meraba kening Aulia dengan punggung telapak tangannya.

USTDZ.HABIBAH :
Sakit kok ngga panas…

AULIA :
(gugup dan berganti memegang perutnya)
Eh…, yang sakit perutnya kok Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
Loh…,
katanya tadi pusing…?
AULIA :
Iy…,iy…,iya…,
perutnya yang pusing…

USTDZ.HABIBAH :
Kamu memang keterlaluan Lia…!
Cepat…!, sekarang belajar…!

AULIA :
Iy…,iy…,iya Ustadzah…

Ustadzah Habibah merengut menahan kesal dan berlalu begitu saja meninggalkan kamar itu.

Setelah Ustadzah Habibah pergi, Aulia lalu melepas kain menjulurkan lidahnya dengan kesal.

AULIA :
Wuek…!, dasar perawan tua ngga laku…!,
makanya bawel…!

Semua yang ada di kamar itu tersenyum geli menahan tawa. Betty ikut tersenyum sambil meraih kembali emping melinjo yang disembunyikan. Tapi ia sedih ketika melihat emping melinjonya remuk karena diduduki.

BETTY :
Yah…, remuk dech emping gua…
CUT TO


SCENE 16. INT.DALAM PONDOKAN SANTRI PUTRA-MALAM
Pemain; Ust.Sobri,Ahsan, Fai, Figuran Santri

Nampak para santri putra sebagian masih mengaji dan sebagian lagi belajar. Dan tampak pula Ustadz Sobri tengah membimbing santri-santri yang belajar.

USTADZ SOBRI :
Saya kok ngga lihat Nirwan
dari semenjak sholat Isya tadi…?
AHSAN :
Mungkin aja sedang buang air besar Ustadz…

USTADZ SOBRI :
Buang air besar kok lama sekali…?

AHSAN :
(dengan nada tak suka)
Dia memang lama kalau buang air Ustadz…,
Nungguin dulu sampai bukaan enam…

FA’I :
Nirwan itu buang air apa melahirkan sih…

Ustadz Sobri lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Fa’i menatap tajam pada Ustadz Sobri.

USTADZ SOBRI :
Kalau gitu teruskan belajarnya ya…,
saya mau mencari Nirwan dulu…
Assalamu’alaikum…

CROWDIED :
Wa’alaikum salam…

Sepeninggal Ustadz Sobri, Ahsan lalu berkata ada Fa’i.

AHSAN :
Wah gawat Ie…

FA’I :
Kenapa San…?

AHSAN :
Nirwan kan lagi pacaran sama Mardiah…
Takutnya mereka ketangkep ama Ustadz Sobri…

FA’I :
Tenang…,
Nirwan udah gua kasih tahu
tempat yang aman buat pacaran…
AHSAN :
Dimana…?

FA’I :
Di kuburan…

AHSAN :
Di kuburan…?
CUT TO


SCENE 17. EXT.PESANTREN-AREAL PEKUBURAN-MALAM
Pemain; Nirwan, Mardiah & Ust.Sobri

Tampak sepasang muda-mudi tengah duduk berdampingan di semua areal pekuburan Persantren.

MARDIAH :
(dengan cemas)
Pulang aja yuk Wan…, aku takut nih…

NIRWAN :
Ngga apa-apa Mar…,
disini aman kok…
Ustadz ngga mungkin kontrol sampai sini…

MARDIAH :
Masalahnya bukan takut Ustadz kontrol…
Tapi kalau Setan yang kontrol gimana…?

Nirwan lalu mengulurkan lengannya merangkul bahu Mardiah.
NIRWAN :
Sudahlah…, ngga usah takut…

Selanjutnya Nirwan mendekatkan wajahnya pada wajah Mardiah, yang membuat Mardiah gemetar setengah ketakutan lalu menepis tubuh Nirwan dengan halus.

MARDIAH :
Jangan Wan…!
NIRWAN :
Kenapa sih…?

MARDIAH :
Itu perbuatan setan…!

NIRWAN :
Bukan…!, ini bukan perbuatan setan…,
Ini asli perbuatanku kok…, bener…

Nirwan memejamkan mata dan terus mendekatkan wajahnya untuk mencium Mardiah. Sementara Mardiah terperangah kaget ketika melihat sosok yang muncul dibelakang Nirwan.
MARDIAH :
(kaget dan takut)
Ustadz Sobri…!!

Nirwan membuka matanya dan menatap pada Mardiah dengan kecewa.
NIRWAN
Kok Ustadz Sobri sih Mar…
Aku Nirwan…, bukan Ustadz Sobri…

Mardiah beringsut mundur, sementara Nirwan menghentikan keinginannya untuk mencium Mardiah. Wajahnya kecewa bercampur kesal.

Mardiah terus memandang pada Sosok di belakang Mardiah, yang membuat Nirwan menoleh. Dan Nirwan pun terkejut serta salah tingkah.

NIRWAN :
Eh Ustadz Sobri…
FADE OUT / FADE IN


SCENE 18. INT.PESANTREN-KAMAR USTADZ-MALAM
Pemain; Ust.Sobri & Nirwan

Nirwan tengah disidang oleh Ustadz Sobri di ruangannya.
USTADZ SOBRI :
Kamu harus ingat Nirwan…!
Apa tujuan kamu datang ke pesantren…?

NIRWAN :
Saya ngga tahu tujuan saya kesini Ustadz…

USTADZ SOBRI :
Kok bisa…,
kamu ngga tahu tujuanmu…?

NIRWAN :
Yang punya tujuan kesini kan…
orang tua saya Ustadz…
Soalnya orang tua saya
yang nyuruh saya ke Pesantren…

Ustadz Sobri tersentak sejenak. Tapi kemudian ia bicara lagi pada Nirwan.

USTADZ SOBRI :
Ok…,
kalau memang kamu ke Pesantren ini
karena disuruh orang tua…,
tapi tidak kemudian kamu bisa seenaknya…
kamu harus tahu…,
bahwa kalau seorang laki-laki berdua-duaan saja
dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya…,
maka yang ketiganya adalah setan…,
faham…!?

NIRWAN :
Faham Ustadz…,
makanya saya ketemuan dengan Mardiah
cuma berdua-duaan saja…,
sebab kalau bertiga…,
takutnya yang satu jadi setan…

Ustadz Sobri merengut kesal.

CUT TO
SCENE 19. INT.PESANTREN-KAMAR USTADZAH-MALAM
Pemain; Ustdz.Habibah & Mardiah

Mardiah disidang oleh Ustadzah Habibah di ruangannya.

MARDIAH :
Tapi…, tapi…, tapi saya…
tidak berbuat apa-apa dengan Nirwan…

USTADZAH HABIBAH :
Ustadz Sobri memergoki kalian
yang hendak berciuman…!!!
Itu kamu bilang tidak berbuat apa-apa…?

MARDIAH :
Tapi saya kan tidak mau Ustadzah…

USTADZAH HABIBAH :
Pertama-tama memang tidak mau…,
tapi begitu kamu merasakan berciuman…,
kamu akan mabuk dan ketagihan…

MARDIAH :
Kayak apa sich Ustadzah rasanya ciuman…?

USTADZ HABIBAH :
(bingung dan berfikir mencari jawaban)
Saya sendiri tidak tahu…

MARDIAH :
Kalau begitu…,
gimana Ustadzah bisa tahu
kalau ciuman itu bisa memabukkan
dan bikin ketagihan…?

Ustadzah Habibah tertegun bingung untuk menjawab.

CUT TO

SCENE 20. EXT.PESANTREN-AREAL KEBUN-MALAM
Pemain; Ust.Sobri, Aulia, F’ai & Para Santri
Ustadz Sobri tengah melakukan kontrol disekitar Pesantren dengan membawa senter besar. Tiba-tiba dari balik pohon muncul Aulia.

USTADZ SOBRI :
Kamu lagi Aulia…!,
ayo kembali ke Asrama…!

AULIA :
Ustadz kenapa sih…,
sekarang menjauhi Aulia…?!!

INSERT
Tampak Fa’i dan beberapa santri mengendap-endap melihat pertemuan Ustadz Sobri dan Aulia.

USTADZ SOBRI :
Bukan menjauhi…!,
tapi kamu yang selalu menemui saya
di saat dan tempat yang tidak tepat…

AULIA :
Terus kapan…
Ustadz mau mendengar keluhan Lia…?
Siang Ustadz sibuk…!,
malam Ustadz tidak mau bertemu Lia…!

USTADZ SOBRI :
Siang kan kita bisa bicara di kantor…

AULIA :
Lia bukan mau bimbingan konseling Ustadz…
Lia mau curhat…

USTADZ SOBRI :
Apa bedanya curhat sama kunsultasi…

Aulia tampak gemas.

AULIA :
Aduuuh Ustadz…!, ya beda lah…!
USTADZ SOBRI :
Apa bedanya…?

AULIA :
Bedanya pada how to say nya Ustadz…

USTADZ SOBRI :
How to say gimana maksudmu…?

Dan tanpa disangka-sangka oleh Ustadz Sobri, tiba-tiba Aulia memeluknya dan merebahkan kepala di pundak Ustadz itu.
USTADZ SOBRI :
(reflek mendorong tubuh Aulia)
Aulia…!, apa-apaan kamu…!

AULIA :
(terdorong mundur)
Ini namanya how to say Ustadz…

INSERT
Fa’I dan teman-temannya terperanjat melihat pemandangan itu. Mata mereka melotot semua.

FADE OUT / FADE IN

ESTABLISHED
Suasana Pesantren di pagi hari.

SCENE 21. INT.KANTOR USTADZ–PAGI
Pemain; Ustdz.Habibah & Ust.Sobri

Para Ustadz dan Ustadzah tengah bersiap mengajar. Tinggal Ustadzah Habibah dan Ustadz Sobri. Setelah melihat kesana-kemari, Ustadzah Habibah lalu berdiri dan mendekati meja Ust.Sobri sambil merapikan buku-buku diatas mejanya sembari pendekatan.

USTADZAH HABIBAH :
Nirwan itu sudah keterlaluan…,
Ustadz harus melaporkannya pada Kyai
UST.SOBRI :
Sabar Ustadzah Habibah…
Kita ini pendidik…, bukan penegak hukum…
Kita belum maksimal mengarahkan mereka…

Ust.Sobri tiba-tiba kebingungan. Ia seperti tengah mencari sesuatu. Dan ia ternyata menemukan pulpennya.

USTDZ.HABIBAH :
Pulpen saja kok lupa naruh…

UST.SOBRI :
Iya nich…,
maklum sudah makin tua…

USTDZ.HABIBAH :
Ach Ustadz Sobri belum tua…,
masih muda kok…
Makanya cepet-cepet married Ustadz…

Ustadzah Habibah memberikan kata-kata bersayap dengan harapan Ustadz Sobri memahami maksudnya. Tapi Ustadz Sobri seperti polos dan tak faham.

UST.SOBRI :
Belum ada jodoh Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
Sama kalau gitu…, saya juga belum…
Kalau saya sich penginnya yang seprofesi…
Biar searah gitu loh…

UST.SOBRI :
(Tidak faham dengan pendekatan Ustdz.Habibah)
Saya doakan…,
semoga Ustdz.Habibah
cepet dapet jodoh yang seprofesi…

Ustdz.Habibah kembali ke mejanya dengan merengut kesal karena Ust.Sobri tak memahami maksudnya.
CUT TO
SCENE 22. EXT.HALAMAN PESANTREN–PAGI
Pemain; Para Santri

Lonceng dipukul beberapa kali. Tampak para santri putra dan putri berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing.
CUT TO


SCENE 23. INT.KANTOR USTADZ–PAGI
Pemain; Ustdz.Habibah & Ust.Sobri

Tiba-tiba Ust.Rokhim muncul dari dalam toilet.

UST.ROKHIM :
(sambil menyalakan rokoknya)
Denger-denger…, siapa itu…?,
emm…,em…, Au…, Aulia…,
sudah kembali ke Pesantren ya Ustadz…?

UST.SOBRI :
Sudah Ustadz…

Ustdz.Habibah kesal. Sementara Ust.Rokhim meneguk air minum hingga habis. Ia melirik ke gelas Ust.Sobri yang sudah kosong. Ustadz Sobri faham.

UST.SOBRI :
Maaf Ustadz…,
air minum saya sudah habis Ustadz…

Ust.Rokhim lalu melirik ke gelas Ustdz.Habibah. Ust.Rokhim berniat meminta air minum Ustdz.Habibah, tapi niat itu ia urungkan karena takut ketika melihat Ustdz.Habibah yang melotot padanya.

UST.ROKHIM :
Anak itu prestasinya gimana sih…?

UST.SOBRI :
Bagus Ustadz…
Ustdz.Habibah wajahnya memerah menahan cemburu.

UST.ROKHIM :
Tapi tampak Ustadz cukup dekat sama dia…?

UST.SOBRI :
Anak itu broken home…,
Ayahnya otoriter…, sibuk dengan bisnisnya…
Mamanya jarang di rumah…
makanya dia jadi begitu…, agak liar…
saya merasa wajib membimbingnya…

Tiba-tiba Ustdz.Habibah membanting buku dan segera pergi meninggalkan ruangan kantor.
CUT TO


SCENE 24. INT.PESANTREN-KELAS 1 ALIYAH PUTRI-PAGI
Pemain; Aulia, Mardiah, Betty, Ustz.Habibah
& Figuran-figuran Santriwati

Para Santri putri di kelas tersebut tengah mengerumuni Aulia.
BETTY :
Loe katanya mau dikawini Li…?

MARDIAH :
Bener ya Li…, kamu mau dikawinin…
Iihhh…,
kamu kan masih bau kencur…
Mosok udah ada yang mauin sih…?

AULIA :
Loe juga masih bau kencur…,
tapi si Nirwan mau juga nyium loe…

Tapi tiba-tiba Ustadzah Habibah muncul dengan wajah masam. Semua siswa

USTDZ.HABIBAH :
Assalamu’alaikum…
CROWDIED :
Wa’alaikum salammm…

USTDZ.HABIBAH :
Aulia…!!!, jelaskan halaman dua belas…!!!

Aulia bingung. Teman-temannya juga bingung.

AULIA :
Saya kan satu minggu ngga masuk Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
Salah sendiri kenapa kamu tidak masuk…!

AULIA :
Loh…, kan Ustadzah sendiri
yang mengusulkan saya diskors…

Ustadzah Habibah kebingungan dan salah tingkah.
CUT TO


SCENE 25. INT.KANTOR USTADZ–PAGI
Pemain; Ust.Sobri & Ust.Rokhim

Tampak asbak Ust.Rokhim penuh dengan puntung rokok. Sementara ia sendiri masih mengepul dengan rokoknya.

USTADZ ROKHIM :
Saya tahu kenapa Ustadzah Habibah
begitu sewot pada anda…?

USTADZ SOBRI :
Kenapa Ustadz…?

USTADZ ROKHIM :
Karena Ustadz Habibah menyukai anda…

USTADZ SOBRI :
Ustadz Rokhim gimana sih…,
kemarin Aulia…, sekarang Ustadzah Habibah…
USTADZ ROKHIM :
Loh…, pilihan kan boleh lebih dari satu…,
Mau diambil dua-duanya juga ngga apa-apa…
Sekarang kan lagi ngetrend tuh…

Ustadz Sobri tersenyum dan Ustadz Rokhim tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba muncul seorang Ustadz.

FIGURAN USTADZ :
Ustadz Sobri dipanggil Ustadz Mubin…!

FADE OUT / FADE IN


SCENE 26. INT.RUANG TAMU KYAI–PAGI
Pemain; Ust.Sobri & Ust.Mubin

Tampak Ustadz Mubin yang dingin dan bermata tajam tengah berbicara dengan Ustadz Sobri.

USTADZ MUBIN :
Anda bisa diskors…,
dan Aulia bisa dikeluarkan…!

USTADZ SOBRI :
Ustadz Mubin…,
saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Aulia…

Tiba-tiba pintu diketuk.

USTADZ MUBIN :
Masuk…!

Pintu terbuka dan muncullah Fa’i bersama sejumlah santri putra temannya.

CROWDIED PARA SANTRI :
Assalamu’alaikum…

USTADZ MUBIN & USTADZ SOBRI :
Wa’alaikum Salaamm…
Dengan isyarat tangan Ustadz Mubin mempersilahkan santri-santri itu duduk.

USTADZ MUBIN :
(sambil menatap ke para santri)
Ceritakan yang kalian lihat semalam…?

Para Santri itu saling menyikutkan bahu dan berbisik untuk menunjuk juru bicaranya dengan Fa’i yang kemudian bicara.
FA’I :
(dengan takut-takut)
Semalam kami melihat Ustadz Sobri
berpelukan dengan Aulia dengan di kebun…

USTADZ SOBRI :
Ini salah faham…
Saya akan membuktikan kalau ini tidak benar…!

USTADZ MUBIN :
(dengan wajah serius)
Silahkan Ustadz…, anda kami beri waktu…
Apalagi anda tidak hanya bertemu…,
tapi juga berpelukan…,
ini namanya mendekati Zina…!
CUT TO


SCENE 27. INT.PESANTREN-KELAS 1 ALIYAH PUTRI-PAGI
Pemain; Aulia, Mardiah, Betty, Ustz.Habibah
& Figuran-figuran Santriwati

USTADZAH HABIBAH :
Jadi…, dalam Islam…,
jangankan berzina…,
mendekati Zina saja diharamkan…!

Ustadzah Habibah tengah memberikan pelajaran Fiqh dengan wajah tegang, dimana Mardiah duduk di depan, Aulia duduk di bangku paling belakang disamping Betty yang tengah tertidur telungkup di mejanya.
MARDIAH :
Apa kalau pacaran
juga termasuk mendekati Zina Ustadzah…?

USTADZAH HABIBAH :
Tergantung bagaimana cara berpacarannya…
Ingat…!,
seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat…
Kalau saja seorang laki-laki
berlama-lama memandang wanita…
maka yang muncul adalah fantasy seksual…

Ustadzah Habibah lalu melihat ke arah Betty yang tertidur.
USTADZAH HABIBAH :
Nah Betty…, coba kamu jawab…!
Apa kamu mau melayani
kalau pacarmu mau menciummu…?

Mardiah yang duduk disamping Betty segera membangunkannya sambil berbisik.

AULIA :
Bet…, Betty…!, ditanya Ustadzah tuh…!

Betty terkejut dan bangun.

BETTY :
Apaan…?

AULIA :
(mengerjai Betty setengah berbisik)
Kamu mau diajak makan-makan sama Ustadzah…?,
mau ngga…?

BETTY :
(antusias dan menjawab lantang)
Mau…, mau Ustadzah…!, mau…?

Semua yang di kelas jadi tertawa. Sementara Ustadzah Habibah melotot marah.
CUT TO

SCENE 28. EXT.PESANTREN-DEPAN ASRAMA PUTRA-PAGI
Pemain; Nirwan, Ahsan, Fa’i & Para santri

Di depan masjid penuh dengan daun-daun kering. Tampak Nirwan tengah menyapu daun-daun kering tersebut. Dan di punggung Nirwan tergantung kertas yang bertuliskan; “AKIBAT PACARAN”

Sementara itu Fa’i dan Ahsan menemaninya sambil duduk di undak-undakan Masjid.

NIRWAN :
Mestinya Ustadz Sobri
juga melakukan seperti yang gua lakuin ini…

AHSAN :
Emangnya kenapa Wan…?

NIRWAN :
Dia kan juga pacaran sama Aulia…,
pelukan lagi…

AHSAN :
Ah itu kan cuma ulah si Fa’i aja…

FA’I :
Enak aja ulah gua…!,
emang nyatanya gua ngelihat sendiri…!

AHSAN :
Tapi gua ngga yakin…!

Tiba-tiba muncul beberapa santri yang menatap ke tulisan di punggung Nirwan. Mereka spontan tertawa. Tentu saja Nirwan marah.

NIRWAN :
Apa loe lihat-lihat…?!!!,
pergi…!
Dan para santri itu langsung kabur ketakutan.
CUT TO


SCENE 29. INT.PESANTREN-KELAS 1 ALIYAH PUTRI-PAGI
Pemain; Aulia, Mardiah, Betty, Ustz.Habibah
& Figuran-figuran Santriwati

Ustadz Habibah masih mengajar.

USTADZ.HABIBAH :
Sekarang ini…,
pacaran belum dianggap lengkap
jika belum melakukan hubungan seksual…
Keadaaan ini sungguh memprihatinkan…
POV
Sementara itu di bangku paling belakang, Betty tengah melihat sepucuk surat yang menyelip di tas milik Mardiah yang tengah khusuk mendengarkan Ustadzah Habibah.

Diam-diam Betty mengambil surat tersebut. Betty kemudian membacanya. Mardiah menoleh dan berusaha merebut kembali surat tersebut. Tapi Betty mempertahankannya, sehingga terjadilah kegaduhan di meja belakang, karena Betty dan Mardiah saling berebut. Ustadzah Habibah lalu menghampiri mereka dengan marah.

USTDZ. HABIBAH :
Lagi-lagi kamu Betty…

BETTY :
Mardiah yang mulai Ustadzah…

USTADZ.HABIBAH :
Itu surat dari siapa…?

BETTY :
Punya Mardiah Ustadzah…

USTADZ.HABIBAH :
Dari siapa Mar…?
MARDIAH :
(ketakutan)
Sur…,sur…, surat saya Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
Buat siapa…?

MARDIAH :
Buat Nirwan Ustadzah…

USTDZ.MARDIAH :
Ayo kalian berdua berdiri di depan…
Bawa suratnya…, dan baca…!, Betty yang baca…!

Betty dan Mardiah lalu kedepan sambil membawa surat itu. Betty lalu membaca surat itu sambil melihat kearah Mardiah dengan perasaan tak enak.

BETTY :
Buat Nirwanku tersayang…

CROWDIED SANTRI PUTRI :
Huuu…uuu…, suit…, suit…

USTADZAH HABIBAH :
(sambil menggetok-getok penggaris ke meja)
Diam…!, diam…!, Betty teruskan…!

BETTY :
(melanjutkan membaca surat)
Maafkan aku atas kejadian tadi malam…
Kamu pasti kecewa
karena aku tak mau kau cium…

Tampak Mardiah wajahnya memucat dan panik.

BETTY :
Nirwan Sayang…, aku begitu…
karena aku takut pada Tuhan…
Aku takut ketahuan Ustadzah Habibah
Lalu dikeluarkan dari Pesantren…(MORE)
BETTY(CONT’D) :
Kamu tahu sendiri kan…
Betapa juteknya Ustadzah Habibah…
Apalagi dia kan katanya paling benci
sama santri yang pacaran…
Kata Betty…, kata Betty…, kata Betty…

Betty menoleh kesana kemari dengan ketakutan. Tapi Ustadzah Habibah membentaknya.

USTADZAH :
Ayo teruskan…!

BETTY :
(ketakutan dan pucat pasi)
Kata Betty…,
Ustadzah Habibah begitu
karena dia selalu patah hati
setiap mencintai laki-laki…

Ustadzah Habibah melotot marah dan langsung merebut surat dari tangan Betty.

FADE OUT / FADE IN


SCENE 30. INT.PESANTREN-KAMAR USTADZAH–SIANG
Pemain; Ustdz.Habibah, Betty dan Mardiah

Tampak Ustadzah Habibah menelungkup di meja kerjanya sambil menangis tersedu-sedu. Tak lama kemudian Betty dan Mardiah muncul dan langsung mendekati.

MARDIAH :
Maafkan saya Ustadzah…

BETTY :
Saya juga Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
Kalian emang keterlaluan…
MARDIAH :
Yang keterlaluan Betty Ustadzah…
Kan dia yang bilang Ustadzah begitu…
Saya kan apa kata dia…

BETTY :
Ah loe juga…!

MARDIAH :
Ya…,
pokoknya kami minta maaf Ustadzah…
Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi…

BETTY :
Saya juga Ustadzah…

USTDZ.HABIBAH :
(sambil terisak)
Kalian pergi saja…!
Saya lagi ngga mau diganggu…!

MARDIAH :
Ya Ustadzah…
Tapi sekali lagi kami mohon maaf…

BETTY :
Saya juga Ustadzah…
Saya janji ngga mau mengulangi lagi…

Mardiah dan Betty lalu mengulurkan tangan untuk me nyalami Ustadzah Habibah dan mencium tangannya. Tapi tiba-tiba Betty bertanya dengan lugunya pada Ustadzah Habibah yang tangisnya sudah mulai reda.

BETTY :
Tapi bener ngga sih Ustadzah…,
kalau Ustadzah Habibah
sering patah hati sama cowok…

Ustadzah Habibah yang semula sudah tidak menangis seketika menangis lagi.
CUT TO

SCENE 31. INT.KANTOR-RUANG KERJA AYAH AULIA–SIANG
Pemain; Ayah Aulia dan Afrizal

Tampak Ayah Aulia tengah menandatangani beberapa berkas diatas meja kerjanya. Tiba-tiba pintu diketuk.

AYAH AULIA :
Masuk…

Pintu dibuka dan muncullah seorang laki-laki tampan berpakaian eksekutive.

AFRIZAL :
Assalamu’alaikum Om…

AYAH AULIA :
Wa’alaikum Salaaam Afrizal…
Duduk…duduk…

Afrizal lalu duduk di depan meja ayah Aulia dengan gaya yang cukup elegant.

AFRIZAL :
Om panggil saya…?

AYAH AULIA :
Iya Zal…,
Om mau minta tolong sama kamu…
Kalau kamu punya waktu…,
tolong tengokin Aulia ke Pesantren…

AFRIZAL :
Bisa Om…,
sore ini langsung berangkat juga bisa…

AYAH AULIA :
Sekalian bawaain dia uang sekolah…,
uang Asrama…,
sama uang bulanan ya Zal…
AFRIZAL :
Baik Om…

Afrizal masih duduk saja disitu, sementara Ayah Aulia melanjutkan menandatangani berkas-berkas.

AFRIZAL :
Masih lama Om…?

AYAH AULIA :
Loh…,
kalau kamu terburu-buru…
silahkan ngga apa-apa…

AFRIZAL :
Iya sih Om…

Ayah Aulia lalu berdiri dan hendak menyalami Afrizal.

AYAH AULIA :
Ya sudah…,
salam ya buat orang tuamu…

AFRIZAL :
(bingung)
Terus uang yang dikirim ke Aulia…?

AYAH AULIA :
Loh…, ya pake duitmu lah…
Kamu kan calon suaminya…

AFRIZAL :
Tapi kan baru calon Om…

AYAH AULIA :
Ya kalau gitu uangmu kan calon uangku juga…
Jadi kalau sekarang pake uangmu
kan ngga apa-apa…

Afrizal bingung.
FADE OUT / FADE IN
ESTABLISHED
Ayam berkokok, suasana Pesantren pagi hari.


SCENE 32. EXT.KAMAR MANDI ASRAMA PUTRI-PAGI
Pemain; Betty dan Ustdz.Habibah

Sebuah kamar mandi berderet panjang. Santri putri sedang antri mandi. Betty berjalan dari kamar membawa gayung dan handuk yang tersampir di pundaknya menuju kamar mandi umum.

BETTY :
Waduh…,
gua kesiangan nih…

Betty menunggu pada sebuah pintu kamar mandi untuk antri. Betty yang lagaknya sok preman segera mengetok-ketokkan gayungnya ke pitu kamar mandi.

BETTY:
Buruan dong…!,
gua terlambat niih…!!!

Yang didalam kamar mandi tidak menyahut, hanya terdengar orang yang sedang mandi.

BETTY :
Siapa sih didalam…?!!, cepetan dong…!,
gua jebol entar pintunya…!

Betty kemudian mengambil batu kerikil dan melemparkannya kedalam kamar mandi. Tapi dari dalam tetap tidak reaksi.

BETTY :
Eh nekat ya…,
gua jebol beneran nih pintunya…!

Betty lalu mengepalkan tinjunya hendak memukul pintu. Begitu tangan terayun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Kepalan tangan Betty hampir mengenai wajah Ustadzah Habibah yang baru keluar dari kamar mandi. Betty salah tingkah dan tersipu malu.

BETTY :
Maaf Ustadzah…

Ustadzah Habibah berlalu pergi dengan marah. Sementara itu Betty memasuki kamar mandi sambil bergumam kesal.

BETTY :
Sudah punya kamar mandi sendiri…,
kamar mandi santri dirambah juga…
Dasar perawan tua…!
CUT TO


SCENE 33. INT.DALAM KAMAR MANDI ASRAMA PUTRI-PAGI
Pemain; Betty

Betty memasuki kamar mandi. Dan alangkah kagetnya Betty ketika tahu kalau bak mandinya kosong. Habis airnya.

BETTY :
Waduh…, gile itu Ustadzah…
Mandi ngga kira-kira…, di isi lagi kek…

Betty lalu menyalakan kran air. Dan ternyata kran air juga tak mengucur.

BETTY :
Apes dech gue…
CUT TO


SCENE 34. INT.PESANTREN-KELAS 1 ALIYAH PUTRI-PAGI
Pemain; Ust.Sobri, Aulia, Mardiah, Betty
& Para Santri Putri

Tampak Ustadz Sobri tengah memberikan pelajaran Sejarah Dunia.
UST.SOBRI :
Josephine adalah inspirasi tersendiri
bagi Napoleon Bonaparte…
Wanita yang satu ini
adalah wanita terakhir bagi Napoleon
sebelum kemudian ia dipenjarakan
di pulau Elba hingga akhir hayatnya…

Sementara itu Aulia sangat memperhatikan bagaimana Ustadz Sobri menjelaskan pelajaran tersebut.

UST.SOBRI :
Napoleon sangat mencintai Josephine…
Tapi tidak bagi Josephine…
Tak ada kesedihan dalam diri Josephine
ketika kejayaan Napoleon runtuh…

Tiba-tiba Betty muncul dengan jilbab tak beraturan.

BETTY :
Maaf Ustadz…,
tadi habis sarapan tiduran…,
eee kebablasan tidurnya dech…

UST.SOBRI :
Ya sudah duduk…

Betty lalu duduk. Tapi tiba-tiba teman-temannya menutup hidung.
BETTY :
Aduh sorry dech…, gua belum mandi…,
airnya habis sich…
CUT TO


SCENE 35. INT.PESANTREN-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Afrizal dan Bagian Tamu 1

Afrizal tengah duduk di ruang tamu Pesantren. Wajahnya terlihat letih, seperti habis menempuh perjalanan jauh. Tak lama seorang santri bagian tamu muncul membawakan air minum.
BAGIAN TAMU 1 :
Silahkan diminum Pak…,
Aulia sedang dipanggilkan…

AFRIZAL :
Terima kasih…
CUT TO


SCENE 36. INT.PESANTREN-KELAS 1 ALIYAH PUTRI-PAGI
Pemain; Ust.Sobri, Aulia, Mardiah, Betty,
Para Santri Putri & Bag. Tamu 2

Ustadz Sobri masih memberikan pelajaran.

UST.SOBRI :
Sejarah tentang Josephine memberikan gambaran
tentang peran penting seorang wanita
dalam menghantar kesuksesan
seorang tokoh besar.
Selain Josephine…,
banyak lagi wanita-wanita
yang berada dibelakang kesuksesan
seorang tokoh…
Di negara kita sendiri ada Ibu Fatmawati…,
di Amerika ada Hillary Clinton dll…
Dari sini kita bisa menyimpulkan
Betapa berartinya seorang wanita bagi pria…

Tiba-tiba muncul seorang santri.

BAGIAN TAMU 2 :
Assalamu’alaikum…

UST.SOBRI :
Wa’alaikum Salaammm…

BAGIAN TAMU 2 :
Aulia ditunggu tamu di ruang tamu…
UST.SOBRI :
Siapa tamunya…?

BAGIAN TAMU 2 :
Katanya Omnya…, emm namanya Afrizal…

Aulia yang segera berdiri.

AULIA :
(menatap Ustadz dengan sedih)
Saya izin dulu Ustadz…
Assalamu’alaikum…

UST.SOBRI :
Wa’alaikum Salaammm…

Aulia meninggalkan kelas. Dan di pintu ia masih sempat menoleh pada Ust.Sobri yang duduk lalu menundukkan kepala. Tiba-tiba Betty menyahut.

BETTY :
Tampaknya Aulia bisa menjadi wanita
yang berada dibelakang kesuksesan Ustadz…

Para Santri tertawa dan wajah Ustadz Sobri spontan memerah.
CUT TO


SCENE 37. INT.PESANTREN-RUANG TAMU-PAGI
Aulia,Afrizal, Ust.Sobri, Ustdz.Habibah & Mubin

Afrizal masih duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Aulia muncul. Keduanya lalu bersalaman. Setelah itu Aulia duduk dihadapan Afrizal dengan wajah cemberut.

AFRIZAL :
Gimana kabarmu Lia…?

AULIA :
Baik Om…
AFRIZAL :
Kamu kayaknya agak sakit ya…?

AULIA :
Jangan sok perhatian dech Om…

AFRIZAL :
(emosi)
Om bukan sok perhatian…,
Tapi wajahmu emang kelihatan kuyu…

AULIA :
Ini karena Lia males ketemu Om…!

Aulia lalu berdiri dan berniat pergi, tapi Afrizal memegang lengannya. Aulia memberontak, tapi Afrizal semakin kencang memegang lengan Aulia.

AULIA :
Lepas Om…!, lepas…!, Lia benci Om…!!!

Afrizal tampaknya kesetanan. Ia lalu menarik Aulia ke pelukannya. Aulia meronta.

AULIA :
Lepas…!, lepas Om…!

Tiba-tiba Ustadz Sobri muncul. Afrizal kaget dan Aulia berhasil melepaskan diri lalu lari sambil menangis pada Ustadz Sobri dan memeluknya. Afrizal terperangah dengan marah melihat kejadian itu.

Tapi pada saat yang bersamaan, Ustadzah Habibah lewat di ruangan itu bersama Ustadz Mubin. Ustadzah Habibah dan Ustadz Mubin terperangah melihat Aulia dalam pelukan Ustadz Sobri.
STOP MOTION

TO BE CONTINUED

Tebet, 27 Juni 2006


Category: |
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 komentar:

On 19 Maret 2009 02.02 , Sandeq mengatakan...

Durasi 48 menit dengan jumlah scene 37. Ternyata bisa juga, ya? Sebelumnya saya pikir PH kurang suka kalo scene-nya kelewat banyak, harus rata2 35 scene aja untuk durasi 42-48 menit. Terima kasih ya ya Mas, buat bagi-bagi ilmunya....

 
On 17 Oktober 2011 00.38 , Amar ma'ruf Nahi Munkar mengatakan...

sangat bermanfaat bagi peminat penulis skenario, alangkah baiknya lagi jika tidak menggunakan bahasa asing, atau sebelumnya ada semacam indeks istilah dalam skenario, apa itu scene, FADE OUT / FADE IN, ESTABLISHED dll. sehingga pembaca tidak menafsirkan sendiri yang mungkin dengan keterbatasan pembaca bisa salah.